Showing posts with label e-commerce. Show all posts
Showing posts with label e-commerce. Show all posts

Friday, December 28, 2018

LIMA JENIS MODEL BISNIS PADA E-COMMERCE

LIMA JENIS MODEL BISNIS PADA E-COMMERCE

       Di dalam suatu bisnis dijalankan, salah satunya dalam bentuk e-commerce terdapat setidaknya satu atau beberapa buah model bisnis (Business Model) yang diterapkan. Model bisnis dapat diartikan sebagai sebuah pola, strategi, dan ide di dalam menjalankan sebuah bisnis, berserta dengan kebijakan dan operasional di dalamnya. Terkait dengan e-commerce, setidaknya terdapat lima buah jenis model bisnis yang dapat diterapkan di dalamnya.
   Kelima jenis model bisnis pada e-commerce tersebut meliputi Vanity, Store Front, Subscription, Business to Business, dan Affiliate Marketing. Kelima jenis model bisnis pada e-commerce ini akan dijelaskan pada setiap sub bab di bawah ini.

1. Vanity
    Model bisnis pertama yang dapat dilakukan pada e-commerce adalah Vanity. Vanity secara harfiah diartikan sombong. Maksudnya adalah pelaku e-commerce tidak memerlukan bantuan pihak lain di dalam menjalankan e-commerce, sebab bisnis yang dijalankannya melalui e-commerce cenderung diawali dari sebuah hobi. Pelaku e-commerce cukup menyediakan secara mandiri website atau blog yang mereka perlukan sebagai media untuk mengenalkan produk barang maupun jasa yang ingin mereka tawarkan kepada para pengguna internet sebagai calon konsumen mereka, sekaligus menyalurkan hobi.
     Untuk menarik perhatian sekaligus berbagi informasi dengan sesama (apalagi  dengan hobi yang sama), biasanya para pelaku e-commerce dengan model bisnis Vanity ini menambahkan beragam artikel menarik, promo online, wawancara ekslusif dengan narasumber, dan sebagainya yang berhubungan dengan hobi dan bidang e-commerce yang digelutinya tersebut. Sehingga berpotensi besar website e-commerce akan menarik minat banyak pengguna internet untuk mengunjungi (termasuk juga di dalam Search  Engine Optimization). Tentu ini akan menjadi salah satu pemasukan (selain transaksi penjualan produk atau jasa yang ditawarkan di dalamnya), termasuk juga melalui iklan.
   Situs e-commerce Linux Biasawae (http://toko.baliwae.com.) dan Juragan Kambing UI (http://juragan.kambing.ui.ac.id/), merupakan dua buah website e-commerce yang mengkhususkan di bidang penjualan DVD, CD, dan pernak-pernik seputar sistem operasi Linux dan aplikasi-aplikasi FOSS (Free and Open Source Software). Bermula dari hobi di bidang Linux dan FOSS, kemudian juga merambah ke bidang e-commerce, sekaligus ikut berbagi pengetahuan melalui artikel dan file yang disediakan.

Gambar Website Juragan Kambing UI


2. Store Front
    Model Store Front pada e-commerce secara harfiah adalah sediakan media toko online berbasis web maupun mobile di awal, kemudian baru pikirkan mana saja barang yang ditawarkan tersebut diperoleh untuk dikirimkan kepada konsumen yang memesan. Sehingga model bisnis Store Front ini memerlukan setidaknya dua syarat utama bagi pelaku e-commerce, yaitu :
1) Pelaku e-commerce harus berani menawarkan sebanyak mungkin jenis produk dan layanan kepada calon konsumen atau pengguna internet secara umum, melalui halaman website yang menjadi lahan toko online pelaku e-commerce bersangkutan. Masalah keberadaan stok atau darimana stok disuplai, adalah urusan kedua.
2) Lalu bagaimana dengan penyediaan stok dan suplai barang? Hal ini dapat disiasati dengan kerja sama sebanyak mungkin dengan para produsen dan distributor, termasuk juga industri rumah tangga (apabila ingin mengambil langsung dari tempat produksi pihak pertama). Bahkan apabila dimungkinkan, dapat langsung merangkap sebagai produsen, dengan penyediaan proses produksi.
3) Menjalani sistem Dropship dengan konsumen, produsen, dan distributor. Sistem Dropship berarti bahwa pelaku e-commerce dapat meminimalkan biaya pengiriman, namun barang yang  diinginkan (dipesan) oleh konsumen online dapat dipenuhi dengan baik.
    Amazon (www.amazon.com) dan EBay (www.ebay.com) adalah dua buah layanan e-commrce kelas dunia yang menjalankan model bisnis Store Front. Mereka cukup menyediakan informasi pada websitenya bahwa barang-barang tersebut selalu dalam kondisi stok tersedia. Mengenai bagaimana mereka memenuhi stok barang tersebut, mereka cukup bekerja sama dengan sejumlah produsen dan distributor yang sudah terpercaya dan bekerja sama selama bertahun-tahun dengan mereka. Contoh lainnya lagi dari e-commerce yang menerapkan model bisnis Store Front adalah sejumlah website e-commerce yang di dalamnya mengkhususkan kepada layanan lelang barang serta proses tender suatu proyek atau pengadaan dan pembelian barang dan jasa.

Gambar Website Amazon 

3. Subscription
    E-commerce dengan model Subscription merupakan e-commerce yang menerapkan konsep berlangganan gratis mengenai informasi produk yang mereka jual kepada konsumen, pelanggan, dan calon konsumen (para pengguna internet pada umumnya), melalui alamat e-mail yang didaftarkan oleh konsumen bersangkutan ke dalam kolom sistem Subscription yang disediakan pada website.
     Script untuk menyediakan layanan Subscription melalui alamat e-mail ini tersedia banyak sekali di internet, dalam bentuk kode PHP. Konsepnya adalah sistem membaca sejumlah alamat e-mail yang diinputkan oleh pengguna ke dalam sistem. Kemudian dilakukan pengiriman secara massal (melalui e-mail) ke alamat-alamat e-mail tersebut. Konsep ini hampir mirip dengan konsep Smap (e-mail sampah), namun bedanya adalah dilakukan dengan tujuan baik untuk melakukan promosi sekaligus informasi bermanfaat bagi konsumen (penerima).
     Di jaman Teknologi Informasi seperti saat ini, tersedia banyak sekali website e-commerce yang menyediakan tambahan fitur berupa kolom berlangganan (Subscription), untuk memudahkan pengunjung di dalam berlangganan berita melalui e-mail mereka. Bahkan website non e-commerce pun juga menggunakan layanan ini. Sebagai contoh Anda bisa mengecek e-commerce Birchbox (https://www.birchbox.com/).

Gambar Website Birchbox

4. Business to Business

    E-commerce dengan model bisnis Business to Business atau B2B, menekankan kepada proses transaksi yang tidak hanya melibatkan konsumen akhir, tapi juga sesama produsen, distributor, atau penjual lainnya (baik penjual besar, menengah, maupun kecil). Konsepnya sama seperti proses jual beli Business to Business di dunia nyata. Yaitu terdapat sebuah produsen barang yang menjual barangnya secara online kepada konsumen lain, yang kemudian menjual kembali produk tersebut atau menambahkan ke dalam produknya untuk kemudian dijual kembali.
     Terdapat banyak sekali contoh layanan e-commerce dunia yang menggunakan model bisnis Business to Business ini. Antara lain adalah Quill (http://www.quil.com/), Grainger (http://www.grainger.com/), MSC Industrial (http://www.mscdirect.com/), MC Master Carr (http://www.mcmaster.com/), dan Fastenal (http://ww.fastenal.com/). Masing-masing contoh ini memiliki kelebihan dalam hal layanan yang diberikan kepada para konsumen mereka.
Gambar Website Grainger E-commerce B2B

5. Affiliate Marketing

     E-commerce dengan model bisnis Affiliate Marketing merupakan e-commerce yang di dalamnya menyediakan konsep "bantu jual produk saya dan dapatkan komisinya". Hampir mirip dengan konsep model bisnis E-commerce Business to Business (B2B) yang dijelaskan sebelumnya pada bagian atas, namun yang membedakan adalah adanya komisi bagi konsumen dan distributor yang ikut berperan di dalam menjual produk dari suatu produsen. Dalam cakupan di dunia digital (untuk e-commerce), tentu saja bentuk implementasi model bisnis Affiliate Marketing tidak hanya sesederhana itu.
     Terdapat beberapa contoh implementasi model bisnis ini pada dunia Teknologi Informasi, untuk e-commerce. Keberagaman ini disebabkan oleh karena banyaknya ide, proses bisnis, dan implementasi teknologi, yang dapat diterapkan di dalamnya. Antara lain:
1) Tersedia sebuah website yang menjual produk sendiri. Kemudian setiap pengunjung internet dapat registrasi ke dalam sistem pada website tersebut, dan memperoleh komisi langsung untuk setiap pembelian produk sesuai dengan perjanjian (misalkan souvenr maupun gratis onkos kirim gratis untuk pembelian produk sekaligus).
2) Seperti contoh nomor 1 di atas, namun produk yang dijual adalah produksi perusahaan lain. Perusahaan menjadi penyedia barang, sementara pemilik web ikut membantu memasarkan secara online (dan memperoleh komisi sesuai perjanjian). Pada beberapa kasus, pemilik web tidak dapat bekerja sama dengan banyak perusahaan sekaligus, sehinggan tidak terpaku pada satu perusahaan atau produk saja.
3) Membuat sebuah website dengan tema tertentu, misalkan saja tentang buku dan budaya membaca. Disediakan banyak sekali artikel penting di dalam web ini yang disajikan oleh pemilik web. Kemudian disajikan sejumlah ruang iklan, dimana perusahaan dibidang buku (percetakan, penerbit, penulis, toko buku, lainnya) dapat meletakkan iklan mereka di sana secara gratis. Namun untuk setiap iklan yang diklik oleh pengunjung website bersangkutan dan terdapat produk yang dibeli oleh mereka, maka pemilik web berhak memperoleh komisi. Komisi ini sebagai kompensasi atas pemberian ruang iklan online dan sekaligus membantu memasarkan produk mereka ke konsumen.
4) Model Cost Per Click (CPC) dan Pay Per Click (PPC) yang diterapkan baik oleh pemilik website maupun merangkap sebagai pemilik dan produsen produk, terhadap konsumen yang mau mengklik iklan yang mereka berikan secara online dan mempublikasikannya ke pengguna internet lainnya (misalkan menggunakan Social Media dan Social Network). Komisi bisa saja akan ditambah apabila membeli produk yang ditawarkan tersebut.
     Adapun ilustrasi untuk sebuah e-commerce yang menggunakan model bisnis Affiliate Program ini, dapat disajikan pada gambar di bawah:
Gambar ilustrasi E-commerce model bisnis Affiliate Marketing

     Dari gambar di atas, dapat diketahui pada tahap awal perusahaan yang menawarkan afiliasi (Affiliate) membuat sebuah hubungan berskala bisnis (relationship) yang seakan-akan merupakan bisnis milik Anda. Anda dalam hal ini mewakili pelaku e-commerce yang menggunakan Affiliate Marketing ini. Misalkan saja afiliasi untuk satu atau beberapa buah produk maupun layanan, di mana untuk produk Anda memperolehnya langsung dari pihak afiliasi. Kemudian Anda memasangkan iklan produk maupun layanan afiliasi tersebut ke internet, sambil menunggu adanya respon dari para pengguna internet lainnya sebagai calon konsumen. Setelah konsumen merasa tertarik dengan produk atau layanan afiliasi yang Anda tawarkan tersebut, Anda akan memperoleh pembayaran dari transaksi online yang dilakukan oleh konsumen. Data-data penjualan produk afiliasi Anda akan dicatat oleh sistem milik perusahaan afiliasi, untuk kemudian diberikan kompensasi penghargaan (Rewatrd) dalam bentuk uang, sebagai komisi atas bantuan Anda di dalam ikut menjual produk maupun layanan yang diafiliasika tersebut. 

Read more

EMPAT BELAS JENIS LAYANAN PADA E-COMMERCE

EMPAT BELAS JENIS LAYANAN PADA E-COMMERCE


Sebagai sebuah teknologi di bidang ekonomi (terutama transaksi jual beli), e-commerce menawarkan setidaknya empat belas buah jenis layanan kepada para pengguna. Keempat belas buah layanan tersebut meliputi Product Management, User Management, Cross Sell And Up Sell, Catalog Management, Content Management, Order Management, Inventory Management, Payment Service, Personalization, Campaign Management, Loyality Management, Customer Service, Search Service, serta Reporting And Data Analysis. Pembahasan untuk setiap layanan pada e-commerce tersebut disajikan pada setiap subbab di bawah ini. 

1. Product Management
  E-Commerce menyediakan layanan berupa product management atau manajemen produk. Hal ini berarti bahwa di dalam di dalam aplikasi dan layanan E-Commerce, terdapat fitur dan layanan untuk manajemen produk barang dan jasa yang di perjual belikan secara online. Adana Product Management ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa :
- Memberikan kemudahan bagi pengelola toko online di dalam mengelola toko online mereka, dalam hal ini barang-barang yang ada di dalam gudang dan etalase toko online.
- Memudahkan pembeli dan pengunjung di dalam melihat katalog online dan etalase online.
-  Memudahkan pembeli dan pengunjung di dalam mencari barang atau produk yang mereka perlukan dengan cepat dan mudah.

2. User Management
   Layanan User Management adalah layanan yang diberikan oleh E-Commerce untuk memudahkan di dalam proses managemen pengguna di dalam system E-Commerce berdasarkan kelompok pengguna. Setiap kelompok pengguna pada E-Commerce dapat memiliki akses (Privillege) berbeda. Adanya hak akses (Privillege) ini di harapkan dapat memberikan kemudahan kepada para pengguna dari berbagai tingkatan, misalkan Administrator (pengelola toko online) hingga pengguna biasa (pengunjun) serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna.
   Sehingga dapat dikatakan bahwa adanya layanan User Management (manajemen pengguna) pada E-commerce memberikan manfaat berupa :
- Memudahkan didalam mengelola para pengguna dari berbagai tingkat pengguna pada e-commerce berdasarkan kelompok pengguna.
- Memberikan pengamanan sistem pada e-commerce dengan adanya hak akses (Privillege) berbeda untuk setiap kelompok pengguna.
- Memudahkan di dalam memberi tugas dan tanggung jawab untuk setiap petugas pada sistem e-commerce sesuai dengan kelompok pengguna.

3. Cross Sell And Up Sell
   Cross sell (atau Cross Selling) dan Up sell (atau Up Selling), keduanya merupakan upaya untuk memperoleh keuntungan di dalam proses  jual beli, yang umumnya dilakukan persahaan mauapun usaha kecil.Terdapat perbedaan mendasar antar Cross sell dan Up sell. Cross sell lebih menekankan kepada penawaran lebih dari satu variasi produk kepada konsumen. Up sell misip dengan Cross sell, nanun juga menawarkan versi terbaik dari produk yang di tawarakan tersebut ke konsumen.
   Terkait dengan Cross sell dan Up sell, di dalam layanan dan aplikasi berbasis E-commerce, disediakan dukungan untuk keduanya ini melalui fitur-fitur yang disajikan di di dalamnya. Misalkan saja aplikasi dan layanan E-commerce untuk komputer jinjing, pada Cross sell akan disajikan sejumlah versi dari suatu produk, sebut saja produk notebook Samsung dengan versi A, B, dan C, dengan perbedaan fitur di dalamnya. Sedangkan pada Up sell umumnya disajikan fitur pada katalog online atau etalase online berupa penawara versi terbaik dari suatu produk yang disajikan kepada pengunjung atau konsumen online.

4. Catalog Management
   Catalog management adalah proses manajemen katalog online untuk produk barang dan jasa pada toko online yang disediakan oleh sistem E-commerce. Catalog Management memiliki sejumlah fungsi antara lain:
- Memudahkan pembeli di dalam memilih produk mana saja yang akan mereka beli.
- Memudahkan di dalam memperoleh informasi mengenai perbandingan antara satu produk dengan produk lainnya yang serupa. Termasuk juga jika ada bonus, potongan harga, dan lainnya.
- Bagi pengelola toko online, adanya katalog online dan manajemen katalog online ini akan memudahkan di dalam proses pemasaran produk (marketing) secara online serta meningkatkan kepuasan pembeli.

5. Content Management
   Layanan Cotent manajement diberikan oleh E-Ccommerce untuk membantu pengelola toko online didalam melakukan manajemen konten didalam toko onlinenya tersebut. Misalnya saja konten untuk berita-berita seputar toko online, produk terbaru dengan penawaran lainya. Dengan adanya layanan berupa Content Management ini, maka konten-konten di dalam toko online berbasis aplikasi E-commerce akan mudah tertata dan dimanajemen dengan baik, sehingga memberikan kepuasan bagi konsumen dan juga pengelola toko online bersangkutan.
   Pada praktek mengenai toko online dengan menggunakan sejumlah aplikasi open source CMS (Content Management System) e-commerce, Anda akan dapat melihat beragam fitur layanan yang disediakan di dalamnya. Salah satunya adalah layanan Content Management yang memudahkan pengelola toko online (dalam hal ini Anda sendiri) di dalam mengelola konten digital berupa artikel online, berita online, hingga brosur atau katalog online toko onlie Anda untuk para pengunjung.

6.  Order Management
   E-commerce memberikan layanan berupa order manajement (manajemen data-data pesanan dari pembeli) untuk memudahakan pengelola toko online didalam mengelola data-data pesananan dari para pembeli tersebut. Adapun data pesanan ini brasal dari keranjang belanja virtual milik pengunjung toko online Anda dimana didalamnya berisi sejumlah barang yang diambil oleh pembeli untuk kemudian dibayar secara online.
   Order Management umumnya juga telah disediakan pada berbagai aplikasi dan layanan e-commerce. Misalkan saja pada sejumlah praktek sederhana pada e-commerce berbasiskan aplikasi-aplikasi open source CMS (Content Management System). Proses Order Management tersebut dapat dilakukan melalui dekstop (dalam bentuk e-commerce) maupun dari perangkat mobile berbasiskan M-commerce (Mobile Commerce), dengan tambahan tema (Theme) yang bersifat responsif.

7. Inventory Management
   Inventory menejemen merupakan layanan yang disediakan oleh E-commerce untuk memudahkan pengelola toko online di dalam melakukan manajemen data inventori barang yang dijual. Inventori meliputi jumlah stok barang yang masih ada digudang, stok barang yang terjual, stok yang dikembalikan ke Supplier (Return) termasuk juga biaya didalamnya. Aplikasi dan layanan e-commerce menyediakan layanan ini dengan baik sekali, termasuk juga untuk layanan dan aplikasi kasir (Point of Sale).
   Layanan Inventory Management (manajemen inventori) yang diberikan oleh e-commerce menyajikan sejumlah manfaat, baik bagi pengelola toko online maupun pembeli. Beberapa manfaat tersebut antara lain :
-  Kemudahan bagi petugas atau pengelola toko online di dalam mengetahui dan mencatat jumlh stok barang di gudang.
-  Informasi mengenai stok barang di gudang dapat digunakan sebagai acuan untuk strategi penjualan. Misalkan dengan meletakkan di etalase toko online disertai dengan diskon (apabila stok masih banyak tersisa) ataukah memesan lagi dari supplier (apabila stok di gudang tengah menipis).
- Membantu di dalam proses transaksi barang secara online, dengan menyajikan ketersediaan barang yang diinginkan oleh pembeli.
-  Bagi pembeli atau pengunjung, adanya informasi stok yang tersedia akan memberikan kemudahan bagi mereka untuk tetap membeli produk bersangkutan atau membatalkannya (dibandingkan jika menginginkan barang bersangkutan namun tertanya stok barang bersangkutan sudah tidak tersedia lagi atau kosong).

8. Payment Service
   Kemudahan yang ditawarkan oleh E-Commerce bagi para pembeli adalah kemudahan untuk membeli dan melilih barang yang mereka perlukan serta melakukan pembayaran dengan cepat secara online (elektronik). Untuk itulah E-commerece menyedikan payament service yaitu jenis layanan pembayaran secara online menggunakan PayPal, kartu kredik,kerja sama dengan bank (misalkan melalui SMS Bangking, Internet Bangking, atau E-Banking). Hal lain yang perlu diperhatikan pada Payment Service ini adalah sisi keamanan, untuk meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan pembeli.
   Sejumlah teknologi keamanan untuk menunjang kegiatan transaksi elektronik untuk layanan pembayaran (Payment) ini telah ada. Misalkan dengan menggunakan SSL (Secure Socket Layer) yang memanfaatkan konsep kriptografi (Cryptography)  di dalamnya, dengan fitur enkripsi  dan kunci (key). Proses pembayaran secara elektronik dan online ini akan memudahkan dan mempercepat proses pembayaran yang dilakukan oleh konsumen, tanpa perlu menghabiskan waktu untuk antre, melakukan pembayaran, membawa uang tunai, dan proses pembayaran konvensional lainnya.

9. Personalization
   E-commerece memberikan layanan Personalization (personasisasi) yang membantu konsumen untuk dapat secara personalisasi atau pribadi dan mandiri di dalam memilih sendiri barang dan jasa yang mereka butuhkan melalui etalase yang disedikan oleh toko online bersangkutan. Demikian juga, konsumen dapat menentukan sendiri seberapa banyak mereka berbelanja melalui keranjang belanja virtual mereka, untuk kemudian melakukan pembayaran secara online di dalamnya.
   Bagi pemilik toko online layanan Personalization ini juga turut membantu di dalam mendekatkan pemilik toko atau usaha online ini dengan sebanyak mungkin konsumennya secara lebih personal (pribadi). Misalkan saja dengan penyediaan Customer Care melaui telepon, e-mail, chatiing, Video Conference, atau layanan Teleconference lainnya secara online. Tingkat kepuasan konsumen dapat diukur melalui bagaimana suatu layanan diberikan kepada mereka, serta bagaimana keperluan dan selera mereka (konsumen) yang dapat dipenuhi oleh pemilik usaha dan toko melalui ketersediaan barang, jasa, dan layanan di dalam usaha online mereka ini, berbasiskan e-commerce.
   
10. Campaign Management
   Sisi Marketing sangat penting sekali di dalam melakukan suatu pemasaran. Tidak terkecuali pada pemasaran yang dilakukan secara global dan online berbasiskan e-commerce. Untuk dapat meningkatkan pemasaran selain diperlukan layanan yang bagi kepada konsumen, juga diperlukan adanya proses marketing dalam bentuk iklan, publikasi, kampanye, sosialisasi yang mana semuanya ini bertujuan agar masyarakat umum dapat mengetahui lebih jauh mengenai toko online yang dikelola serta barang dan jasa yang ditawarakan di dalamnya.
   Menyikapi hal tersebut, salah satu layanan yang disediakan oleh e-commerce di dalam sistemnya adalah Campaign Management atau Manajemen Marketing berfungsi untuk membantu pemilik dan pengelola toko online di dalam melakukan pemasaran (marketing) secara online dalam bentuk iklan, kampanye, publikasi, dan sosialisasi melalui jaringan internet ke para pengguna internet secara umum maupun mengkhususkan kepada para konsumen dan pelanggan. Cara yang ditempuh misalkan melalui e-mail pemberitahuan, iklan pada halaman website, iklan pada jejaring sosial (Social Network) dan media sosial (Socia Media), dan lain sebagainya. Melalui layanan Campaign Management yang disediakan oleh aplikasi dan layanan berbasis e-commerce ini, maka pengelolaan tersebut dapat dilakukan secara lebih mudah dan profesional melalui halaman Administrator, untuk kemudian terhubung ke media-media internet lainnya.

11. Loyalty Management
    Layanan Loyaly manajement (manajement loyalitas) disedikan oleh E-commerece untuk membantu pemilik usaha online di dalam proes manajement loyalitas yang diberikan kepada para konsumen. Bentuk loyalty berupa penerimaan saran dan masukan dari konsumen, menangani keluhan konsumen dengan baik dan memberikan solusinya, pemberian hadiah atau harga yang menarik dan kompetitif, sedikit tidaknya akan membantu mendongkrak pemasukan dari sisi penjualan produk secara online. Hal ini disebabkan karena kepuasan dan kepercayaan konsumen yang meningkat dan bertahan, sehingga menjadikan pemilik usaha online mampu bersaing dengan para kompetitor lainnya.

12. Customer Service
    Hal terpenting lainnya yang diberikan oleh E-commerce sebagai sebuah layanan adalah Customer Service atau layana kedapa para pelanggan, termasuk juga pengunjung dan pembeli. Kepuasan konsumen adalah nilai penting dan utama di dalam suatu bisnis, termasuk juga bisnis online menggunakan E-commerece. Layanan Customer Service yang diberikan oleh E-commerece. Layanan Customer Service yang disediakan oleh E-commerce antara lain berupa layanan kontak melalui surat elektronik (E-Mail), Chatting, Video Chatting, kotak pesan, dan lain-lain.
   Layanan Customer Service yang diberikan oleh E-commerc memberikan sejumlah manfaat bagi pembeli dan pengunjung serta bagi pengelola toko online. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut :
- Memudahakan interaksi antara pengunjung dan pembeli denagn pengelola toko.
- Interaksi yang diberikan dalam bentuk opini, testimoni, usulan, saran, kritik, dapat digunakan untuk bahan kajian di dalam meningkatkan layanan dan kualitas barang dagangan online di toko online.

13. Search Service
    Layanan pencarian (Search Service) adalah layanan standar yang umun disedikan pada hampir semua jenis aplikasi dan layanan berbasis komputer dan jaringan komputer. Termasuk pada E-commerece. Layanan Search Service pada E-commerce ini berfungsi untuk :
- Membantu para pengunjung online di dalam didalam mempercepat percarian nama produk yang hendak mereka cari atau perlukan. Ibarat di dunia nyata, para pengunjung dan pembeli tidak perlu harus berkeliling toko swalayan untuk mencari barang yang hendak mereka beli, apabila pada toko tersebut disediakan komputer dengan menu pencarian, sehingga pembeli dapat dengan mudah memperoleh informasi lokasi barang yang mereka cari tersebut (pada rak berapa atau di lantai berapa).
- Bagi pengelola toko online, layanan pencarian (Search Service) ini memudahkan di dalam melakukan pencarian barang maupun produk yang perlu di edit, dihapus, maupun ditambahan informasi penting di dalamnya.

14. Reporting And Data Analysis
   Layanan berupa laporan dan analisa data (Reporting and data analysis) merupakan layanan terakir yang disediakan oleh E-commerece. Layanan ini juga sama pentingnya dengan ketiga belas layanan lainnya yang telah dibahas di atas. Repoting and data analysis berfungsi untuk membantu pemilik toko online atau usaha online di dalam memperoleh laporan penjualan dan pembelian online yang terjadi pada usahanya beserta denganbantuan analisis data didalamnya. Misalnya analisis data terkait dengan Data Mining (penambahan data untuk memperoleh pengetahuan) maupun di dalam menunjang proses pengambilan keputusan (Decision Making).
   Beberapa buah aplikasi open source dalam bentuk CMS (Content Management System) untuk e-commerce, yang akan dibahas tersendiri pada postingan selanjutnya, menyertakan layanan Reporting And Data Analysis ini dengan lengkap pada menu yang disediakan oleh Administrator. Laporan digital dan analisa data tersebut bahkan telah disediakan dalam bentuk dokumen digital (misalkan PDF) untuk memudahkan di dalam pengkoleksian data penjualan pada perusahaan atau toko online Anda serta mengumpulkan data-data penunjang di dalam penentuan kebijakan transaksi selanjutnya dengan konsumen (misalkan melalui diskon).

Read more

JENIS E-COMMERCE BERDASARKAN PRODUK YANG DIJUAL

JENIS E-COMMERCE BERDASARKAN PRODUK YANG DIJUAL




Selain mengelompokkan tujuh jenis e-commerce berdasarkan pelaku didalamnya, ada tiga jenis e-commerce berdasarkan produk yang dijual. Ketiga jenis e-commerce tersebut adalah:

1)  E-Commerce Physical Good

E-Commerce Physical Good merupakan e-commerce yang fokus di dalam menjual produk barang fisik online. Barang-barang ini dapat berupa pakaian, makanan, minuman, perlatan elektronik, pernak-pernik, dan sebagainya. ECommerce Physical Good di dalam penerapannya memerlukan adanya biaya tambahan yang dibebankan kepada pembeli, yaitu untuk biaya kirim dan pajak. Contoh dari E-Commerce Physical Good ini adalah Bhinneka dan Lazada. 
Gambar Website Bhinneka
Gambar Website Lazada

2)  E-Commerce Digital Good 
E-Commerce Digital Good merupakan E-Commerce yang memfokuskan produk yang dijualnya berupa benda-benda digital (Digital Good). Sehingga konsumen dalam hal ini tidak melihat bentuk fisik dari produk yang dibelinya, namun dapat merasakan dan menggunakan produk tersebut (umumnya melalui komputer maupun akses internet). Beberapa contoh di antaranya adalah: 
a.) E-Commerce yang menjual musik digital, misalkan E-Music (http://www.emusic.com/browse/all.html).
b.)   E-Commerce yang menjual perangkat lunak komputer (aplikasi, sistem operasi), misalkan Microsoft Store (http://www.microsoftstore.com).
c.) E-Commerce yang menjual buku digital, misalkan Google Book (https://play.google.com/store/books).

Gambar Website E-Music

3)  E-Commerce Serving Good 
E-Commerce Serving Good merupakan E-Commerce yang khusus menyajikan produk (Good) berupa layanan (Service) saja. Bentuk E-Commerce ini diperlukan oleh konsumen yang memerlukan bantuan jasa dan membayar jasa sesuai kebutuannya tersebut dan harga yang disepakati bersama. 
Beberapa buah contoh E-Commerce Service Good antara lain: 
a. E-Commerce Reservasi Tiket E-Commerce Reservasi Tiket merupakan E-Commerce yang mengkhususkan di bidang penyajian produk jasa pemesanan (reservasi) tiket. Misalkan tiket pertunjukkan, transportasi (pesawat terbang, kereta api, taxi, bis), penginapan (hotel, losmen, home stay). Konsumen dapat memperoleh layanan pemesanan tiket sesuai kebutuhan dan membayarnya jika sudah memperoleh kesepakatan. Misalkan saja Agoda (http://agoda.com/id-id). 
b. E-Commerce Asuransi E-Commerce Asuransi menawarkan layanan asuransi kepada para konsumennya, di mana konsumen memperoleh produk dalam bentuk layanan perlindungan secara finansial. Perlindungan finansial ini meliputi pendidikan untuk anak-anak, kesehatan, tunjangan hari tua, kecelakaan, meninggal dunia, keamanan sistem, dan sebagainya. Misalkan saja Cyber Insurance (http://www.webberinsurance.com.au/cyber-insurance). 
c. E-Commerce Tutorial E-Commerce Tutorial merupakan E-Commerce yang fokus kepada layanan pendidikan dan pengetahuan, baik secara fisik (langsung) maupun online, yang pada beberapa hal disamakan dengan kursus atau pelatihan. Beberapa diantaranya juga menyertakan bukti berupa sertifikat dan pengakuan sertifikat. Misalkan saja Red Hat Linux Training (http://www.redhat.com/en/services/training). 

Gambar Website Linux Red Hat Training

Read more

Tuesday, December 25, 2018

TUJUH JENIS E-COMMERCE BERDASARKAN PELAKU DI DALAMNYA

TUJUH JENIS E-COMMERCE BERDASARKAN PELAKU DI DALAMNYA


E-commerce dibedakan menjadi tujuh jenis berdasarkan kepada siapa  saja pelaku (penjual dan pembeli) yang terlibat  di dalamnya, bagaimana interaksi antar pembeli dan penjual, serta proses yang terjadi di dalamnya. Ajeet Khurana di dalam tulisan online nya berjudul Types Of E-Commerce, menyatakan ada empat jenis kategori di dalam e-commerce saat ini. Keempat jenis e-commerce tersebut meliputi:
1. E-Commerce Business to Business (B2B)
2. E-Commerce Retail atau  Business to Customer (B2C)
3. E-Commerce Customer to Business (C2B)
4. E-Commerce Customer to Customer (C2C)

Sedangkan menurut Tutorial Point (http://www.tutorialspoint.com/e_commerce/e_commerce_business_models.htm), terdapat tiga lagi tambahan jenis e-commerce, selain keempat jenis yang telah disebutkan diatas. Meliputi :
1. Business to Goverment (B2G)
2. Goverment to Business (G2B)
3. Goverment to Citizen (G2C)

C2B dan C2C  merupakan dua buah  penambahan baru di dalam jenis e-commerce, yang muncul sebagai dampak dari makin pesatnya kemajuan teknologi, yang turut mempengaruhi e-commerce. Sedangkan B2G, G2B, dan G2C muncul sebagai akibat keterlibatan pemerintah (Government) secara langsung di dalam proses E-Commerceterhadap bisnis dan masyarakat. Pemerintah bertindak sebagai regulator (pemberi regulasi atau aturan unutk disepakati bersama) sekaligus menjadi pelaku di dalamnya. Pembahasan untuk ketujuh jenis E-Commerce ini disajikan pada sub bab di bawah.

1. E-Commerce Businees to Business (B2B)
Bagian pertama yang dijelaskan mengenai E-Commerce adalah E-Commerce Business to Business (B2B), yaitu bentuk interaksi E-Commerce secara online yang terjadi antara produsen (perusahaan, intdustri rumah tangga, penyedia barang dan jasa) dengan distributor (Supplier) dan Pengecer. Distributor atau pengecer ini kemudian menyalurkan produk tersebut ke konsomen masing-masing. Bentuk distribusi ini bersifat umum dan tidak langsung berinteraksi dengan konsumen akhir yang memerlukan barang dan jasa tersebut.
Di dalam proses Business to Business (B2B) yang terjadi pada e-commerce ini, terjadi kegiatan yang mencakup Supplay Chain, pertukaran informasi, maanjemen operasional, dan lain-lain. Bagan di bawah ini menunjukkan bagaimana sebuah e-commerce Business to Business (B2B) terjadi dan alur di dalamnya :

Gambar e-commerce Business to Business (B2B)

     Dari gambar di atas terlihat bahwa ada tiga tahap pada e-commerce Business to Business (B2B). Meliputi Physical Distribution, Information Exchange, dan Business Process Integration. Pada tahap Physical Distribution, terjadi distribusi produk secara fisik, dimana di dalamnya melibatkan Manufacturing Supply Chain. Manufacturing Supply Chain terdiri atas Supplier (S), Manufacturing (M), dan Customer (C). Manufacturing Supply Chain terdiri atas dua bagian, yaitu :
1) Upstream (level atas) yang melibatkan Supplier (S) dengan Manufacturer (M). Manufacturer menyalurkan produk ke supplier, bukan ke konsumen.
2)  Downstream (Level bawah) yang melibatkan Manufacturer (M) dengan Customer (C). Manufacturer menyalurkan produk langsung ke konsumen akhir.
     Pada tahap Information Excahange terjadi proses pertukaran informasi dimana B2B terjadi di sini anatara Supplier (S) dengan manufacturer (M) dan Manufacturer (M) dengan Customer (C). Tahap terakhir adalah Business Process Integration, dimana terjadi penggabuangan atau integrasi dari beberapa proses bisnis yang melibatkan kolaborasi antara Supplier dan Manufacturer serta kolaborasi Manufacturer dengan Customer. Bagian ini akan diperlukan oleh Opartion Management yang berada di level selanjutnya.

2. E-Commerce Retail (Businees to Customer/B2C)
Retail atau Business to Customer (B2C) merupakan bagian dari e-commerce yang menekankan kepada proses pemesanan, pembelian, dan penjualan produk atau jasa melalui akses internet. Hal ini berarti bahwa penjual dan pembeli dapat langsung bertransaksi secara elektornik dan online, memanfaatkan fitur fitur yang disediakan. Misalkan keranjang belanja virtual dan pembayaran secara elektronik memanfaatkan kartu kredit dan sebagainya.
E-commerce Retail B2C yang dilakukan secara online melibatkan pelaku-pelaku berupa Customer, Business Organization, dan Website. Pada Business Organization ke Customer, terdapat supplies yang berfungsi sebagai proses penyaluran atau distribusi (Supply) produk yang akan dijual. Kemudian antara Business Organization dan Website terjadi proses transaksi jual beli berupa pemrosesan pemesanan online (Order Processing). Dari Customer ke Website terdapat order, yang menyatakan kondisi dimana konsumen dapat melakukan pemesanan produk yang diinginkan (Order) secara online. Bagan dari Business to Customer (B2C) disajikan pada gambar di bawah ini:
Gambar Bagan E-Commerce Business to Customer (B2C)

Salah satu bagian dari proses E-Commerce Retail atau E-commerce Business to Customer (B2C) ini adalah proses Dropship, yaitu proses pemesanan barang oleh konsumen untuk kemudian dilakukan prose pengiriman barang pesanan tersebut sesuai dengan alamat yang diberikan oleh konsumen. Gambar di bawah ini menunjukkan ilustrasi alur dari e-commerce Business to Customer (B2C) atau e-commerce Retail untuk Dropship :
Dari ilustrasi gambar di atas untuk Business to Customer (B2C) atau Retail mengenai Dropship, maka dapat diketahui urutan langkah-langkahnya sebagai berikut :
1. Konsumen mengakses website toko online untuk mencari produk atau barang yang diinginkan.
2. Pemilik usaha atau toko online menerima data pembelian dari konsumen berupa informasi barang atau produk yang dipesan, alamat konsumen, informasi pembayaran serta identitas konsumen.
3. Pemiliki toko online mengirimkan barang tersebut ke alamat konsumen dengan memanfaatkan kurir jasa pengiriman barang.
4. Dropship, yaitu kurir akan mengirimkan barang ke alamat yang diinformasikan oleh konsumen.

3. E-Commerce Customer to Businees (C2B)
Seiring dengan perkembangan teknologi, maka E-Commerce pun juga turut berkembang, kemunculan C2B (Customer to Business) dan C2C (Customer To Customer) oleh makin pesatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Perubahan gaya hidup pengguna internet saat ini. E-Commerce Customer To Business (C2B) merupakan bentuk E-Commerce yang berkebalikan dengan E-Commerce pada umumnya, dimana konsumen berperan aktif dengan cara memberitahukan kepada khalayak internet mengenai kebutuhannya, untuk kemudian satu atau beberapa buah perusahaan atau layanan produk dan jasa akan mencoba menawarkan produk dan jasanya, untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Terdapat tiga komponen pada E-Commerce Customer To Bussines (C2B), yaitu website, Business Organization, dan Customer. Customer melakukan pemesanan (produk maupun layanan) melalui layanan website yang tersedia, dimana website menyertakan beragam pilihan dengan harga masing-masing. Customer kemudian melakukan pemesanan (Order) melalui website. Order terdebut lalu diproses oleh Business Organization yang menyediakan barang atau layanan yang di pesan oleh Customer. Customer melakukan pembayaran secara elektrinik langsung ke Business Organization. Setelah pembayaran diterima, kemudian Business Organization mengirimkan barang yang di pesan tersebut ke Customer. Perhatikan ilustrasi gambar berikut ini :

Gambar E-commerce Customer to Business (C2B)

     Layanan  C2B  banyak  ditemui di  dalam  website  E-Commerce yang bersifat portal, dimana konsumen dapat berperan aktif memposting berita atau informasi mengenai apa yang dibutuhkannya (baik produk maupun jasa), untuk kemudian disanggupi untuk disediakan oleh satu atau beberapa pihak penjual. Misalkan :
1. Sebuah keluarga berencana berlibur ke Bali minggu  depan,   kemudian   kepala keluarga (ayah) memposting informasi  pada  website  forum  diskusi  khusus  E-Commerce mengenai kebutuhannya tersebut (tiket pesawat, tempat menginap, jasa sewa mobil dan supir, guide tempat  makan, tempat  wisata, dan  sebagainya). Postingan si ayah  tersebut (dalam   hal   ini   ayah bertindak sebagai  konsumen  aktif) kemudian akan ditanggapi  oleh para  penjual.  Misalkan  dari  biro perjalanan,   pihak   hotel   atau   penginapan,   pihak penjual souvenir, layanan sewa mobil (beserta guide) dan pihak-pihak lain yang merasa memiliki apa yang diinginkan oleh sang konsumen tersebut. Masing-masing berlomba untuk dapat memenuhi kebutuhan si konsumen.
2. Seorang pengguna internet memanfaatkan layanan website e-commerce untuk menanyakan kepada seluruh pengguna internet, apakah ada yang mampu untuk menjadi distributor untuk 10 buah Notebook (beserta sistem operasi Linux dan aplikasi-aplikasi Open Source di dalamnya) kepada dirinya, untuk dijual di toko fisiknya.Postingan ini kemudian ditanggapi oleh sejumlah produsen dan distributor dari sejumlah merek (Brand) Notebook. Masing-masing berlomba memberikan penawaran terbaik, dalam hal harga, bonus, dan sebagainya.

4. E-Commerce Customer to Customer (C2C)
E-commerce jenis C2C muncul sebagai akibat adanya kemajuan di dalam teknologi website, sehingga antar pengguna dapat saling berinteraksi satu sama lain dan konten disediakan (Generate) oleh pengguna itu sendiri. Bentuk interaksi aktif ini mempengaruhi juga bentuk e-commerce yang terjadi. Pada ecommerce Customer to Customer (C2C) tersedia sebuah website e-commerce dimana pengguna dapat menjuak produk dan jasa di website tersebut, sekaligus juga dapat mencari produk dan jasa yang diinginkannya dan melakukan transaksi. 
Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi gambar dibawah ini. Terdapat tiga buah elemen, yaitu Website, Customer 1, dan Customer 2. Customer 1 bertindak sebagai penjual, dimana Customer 1 memiliki produk dan dijual melalui perantara Website. Customer 2 bertindak sebagai konsumen, dimana customer 2 memerlukan produk yang ditawarkan oleh customer 1 melalui website. Customer 1 meletakkan iklan (adverstisement) pada website, dimana Customer 2 melihat iklan tersebut dan menghubungi Customer 1 untuk transaksi lebih lanjut. Customer 2 melakukan pembayaran secara elektronik (maupun langsung) kepada Customer 1, kemudian Customer 1 mengirimkan barang yang dipesan tersebut ke Customer 2.
Gambar E-commerce Customer to Customer (C2C)

Bentuk-bentuk E-commerce C2C ini dapat Anda temui di layanan EBay (www.ebay.com), lapak Kaskus (www.kasksu.co.id), dan sebagainya. Bentuk website ini umumnya forum, di mana terdapat sejumlah postingan Thread uang memuat produk dan jasa yang diposting langsung oleh pengguna bersangkutan, yang ingin menawarkan produk maupun jasa ke pengguna lainnya. Demikian juga, pengguna lainnya dapat melakukan pencarian untuk produk barang maupun jasa yang diinginkannya, kemudian melakukan interaksi langsung dengan pengguna yang memiliki produk tersebut. Proses pembayaran dapat menggunakan pembayaran elektronik (baik ke rekening pribadimaupun rekening bersama) ataupun bertemu langsung di suatu tempat.

5. E-Commerce Business to Government (B2G)
E-commerce Business to Government (B2G) dimaksudkan sebagai bentuk penyesuaian dari jenis e-commerce Business to Business (B2B) yang telah dijelaskan sebelumnya di bagian atas. Yang membedakan adalah pada jenis Business to Government (B2G) ini, pemerintah bekerja sama dengan pihak bisnis (perusahaan swasta) dalam bentuk penyediaan regulasi (aturan yang disepakati bersama), penyediaan media untuk aplikasi bagi pemerintah dan dunia bisnis, serta pemberian akreditasi bagi website E-Commerce yang digunakan oleh pihak atau kelompok bisnis (perusahaan swasta) untuk kegiatan E-Commerce Business to Government (B2G) ini. Gambar di bawah ini menunjukkan bagan sederhana yang mengilustrasikan E-Commerce Business to Government (B2G).

Gambar E-Commerce Business to Government (B2G)

Dari gambar di atas terlihat adanya tiga buah elemen pada E-Commerce Business to Government (B2G), yaitu Business Organization, Website, dan Government.

6. E-Commerce Government to Business (G2B)
E-Commerce Government to Business (G2B) merupakan bentuk dari E-Commerce yang ,elibatkan pemerintah (Gevernment) dengan pihak bisnis (persahaan). Bentuk interaksi ini akan melibatkan transaksi penjualan barang, jasa maupun keduanya, dalam skala kecil, skala menengah, hingga skala besar. Pemerintah ikut terlibat langsung di dalamnya melalui hubungan dengan pihak swasta, agar tercipta sebuah bentuk kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Perantara untuk hubungan antara pemerintah dengan swasta tersebut adalah melalui website, yang dilakukan secara online dan mobile. Gambar di bawah ini menunjukan ilustrasi sederhana dari bagan E-Commerce Government to Business (G2B).
Gambar  E-Commerce Government to Business (G2B)

    Dari gambar ilustrasi diatas dapat diketahui bahwa pada E-Commerce Government to Business (G2B) terdapat tiga elemen berupa government, website, dan business organization. Government untuk dapat terhubung dengan business organization, harus melalui perantara website. Proses ini dilakukan secara online maupun mobile.
     Sebagai contoh dari bentuk layanan E-commerce Government to Business (G2B)  ini adalah lelang yang diadakan oleh pemerintah untuk kalangan bisnis (perusahaan swasta) secara online, berbasis web dan mobile. Misalkan saja lelang sejumlah asset pemerintahan(peralatan kantor, gedung, tanah, barang sitaan) untuk kemudian digunakan sebagai tambahan biaya pembangunan. Lainnya lagi adalah tender proyek yang melibatkan perusahaan swasta. Perusahaan yang mampu memenangkan tender akan bekerja sama dengan pemerintah untuk mewujudkan proyek bersangkutan sesuai dengan biaya dan tujuan yang disepakati bersama.

7. E-Commerce Government to Citizen (G2C)
E-Commerce Government To Citizen (G2C) merupakan e-commerce yang melibatkan pemerintah (baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah) dengan masyarakat umum (baik pribadi maupun kelompok, namun bukan dalam bentuk perusahaan). Masyarakat umum dalam hal ini menjadi konsumen (pembeli) dan pemerintah menjadi penjual. Umumnya bentuk nyata yang sering ditemui dari jenis E-Commerce Government To Citizen (G2C) Ini adalah dalam bentuk e-comerce lelang berbasiskan web dan mobile. 
Gambar E-Commerce Government To Citizen (G2C)

Sebagai contoh pemerintah suatu wilayah ingin melelang sejumlah peralatan kantor dan beberapa buah gedung kepada masyarakat umum, baik perorangan maupun kelompok (bukan perusahaan). Pemerintah memasangkan infosmasi ini melalui website pemerintah maupun website lainnya yang khusus untuk e-commerce. Proses transaksi terjadi secara online antara calon pembeli (masyarakat umum) dengan penjual (pemerintah). Harga tertinggi yang berhasil tembus di dalam lelang ini, umumnya akan digunakan oleh pemerintah sebagai salah satu sumber pendanaan untuk biaya pembangunan daerah yang bersangkutan. Contoh lainnya adalah penyediaan layanan transaksi online dan mobile bagi masyarakat oleh pemerintah. Misalkan saja,layanan pembayaran pajak layanan pembayaran sertifikat, pembayaran akta dan lain-lain.

Read more